Guncangan Kuat Mengagetkan Warga di Pagi Hari
Gempa 5,7 magnitudo mengguncang wilayah Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah pada Kamis pagi, 19 Februari 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) langsung merilis informasi resmi melalui akun media sosialnya dan memastikan bahwa gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Meskipun demikian, guncangan ini sempat membuat warga panik karena terjadi secara tiba-tiba di awal aktivitas pagi.
BMKG mencatat gempa terjadi tepat pada pukul 07.26 WIB atau 08.26 WITA. Pusat gempa berada di koordinat 1,54 Lintang Utara dan 122,17 Bujur Timur, tepatnya sekitar 110 kilometer di sebelah timur laut Kabupaten Buol. Selain itu, episentrum gempa terletak di bawah laut dengan kedalaman hanya 10 kilometer, sehingga tergolong sebagai gempa dangkal yang getarannya terasa cukup kuat di permukaan.
Karakter gempa dangkal seperti ini memang cenderung menghasilkan guncangan yang lebih terasa bagi masyarakat di sekitar pusat gempa. Oleh karena itu, BMKG segera mengimbau warga agar tetap tenang dan tidak mudah terpancing oleh informasi yang tidak dapat di pertanggungjawabkan. Masyarakat juga di minta untuk terus memantau perkembangan terbaru melalui kanal komunikasi resmi BMKG.
Getaran Terasa hingga Gorontalo dan Manado
Gempa Buol kali ini tidak hanya mengguncang wilayah Sulawesi Tengah, tetapi juga merambat ke beberapa daerah di sekitarnya. BMKG melaporkan bahwa getaran terasa di sejumlah wilayah dengan intensitas yang bervariasi. Skala intensitas yang tercatat menunjukkan dampak guncangan menyebar cukup luas di kawasan Sulawesi bagian utara.
Wilayah Buol sendiri merasakan getaran dengan intensitas III-IV pada skala Modified Mercalli Intensity (MMI). Pada level ini, warga yang berada di dalam rumah merasakan guncangan dengan jelas, layaknya sebuah truk besar melintas di dekat bangunan. Sementara itu, Kabupaten Gorontalo Utara mencatat intensitas III MMI, dan wilayah Gorontalo serta Boalemo merasakan getaran pada level II-III MMI.
Lebih jauh lagi, Kabupaten Bone Bolango juga merasakan guncangan dengan intensitas II-III MMI. Bahkan Kota Manado yang berjarak sekitar 620 kilometer dari pusat gempa ikut merasakan getaran pada level II MMI. Salah seorang warga Manado mengaku terkejut karena kaca di kantornya tiba-tiba bergetar saat gempa terjadi. Fenomena ini menunjukkan bahwa gempa dangkal dengan magnitudo di atas 5 memang mampu mengirimkan gelombang seismik ke jarak yang cukup jauh.
BMKG Tegaskan Tidak Ada Potensi Tsunami
Kabar yang paling melegakan bagi warga di pesisir Sulawesi Tengah dan sekitarnya datang dari pernyataan resmi BMKG yang menegaskan bahwa gempa ini sama sekali tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Pernyataan ini sangat penting mengingat pusat gempa berada di bawah laut dan kedalaman yang tergolong dangkal.
BMKG mengeluarkan informasi resmi melalui akun X (sebelumnya Twitter) dengan menuliskan parameter lengkap gempa beserta keterangan bahwa tidak ada ancaman tsunami. Langkah cepat ini bertujuan untuk mencegah kepanikan massal yang bisa terjadi jika masyarakat menerima informasi yang simpang siur. Terlebih lagi, trauma terhadap bencana tsunami masih sangat kuat di kalangan masyarakat Sulawesi, terutama setelah tragedi Palu pada tahun 2018.
Secara teknis, gempa ini tergolong sebagai gempa tektonik yang berkaitan dengan aktivitas tektonik di kawasan Sulawesi bagian utara. Kawasan ini memang di kenal sebagai salah satu zona seismik paling aktif di Indonesia karena berada di pertemuan beberapa lempeng tektonik. Meskipun begitu, tidak semua gempa di wilayah ini berpotensi memicu tsunami, tergantung pada mekanisme pergerakan batuan di bawah permukaan.
Belum Ada Laporan Kerusakan dan Korban Jiwa
Hingga beberapa jam setelah gempa terjadi, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat guncangan ini. Kondisi ini tentu menjadi kabar baik bagi seluruh masyarakat di wilayah terdampak. Namun demikian, BPBD setempat dan aparat keamanan tetap melakukan pemantauan dan asesmen di lapangan.
BMKG juga mengimbau warga agar menjauhi bangunan yang terlihat mengalami kerusakan atau retak akibat gempa. Langkah pencegahan ini penting karena gempa susulan masih berpotensi terjadi dan bisa memperburuk kondisi bangunan yang sudah melemah. Selain itu, masyarakat di minta untuk tetap waspada dan mempersiapkan rencana evakuasi darurat sebagai bentuk kesiapsiagaan.
Perlu di catat bahwa wilayah Buol pernah mengalami gempa yang lebih kuat pada Desember 2024 lalu. Saat itu, gempa berkekuatan magnitudo 6,0 mengguncang daerah tersebut dan BPBD Sulteng melaporkan 17 rumah warga mengalami kerusakan di Desa Lakuan Buol, Kecamatan Lakea. Dari jumlah tersebut, 14 rumah mengalami rusak ringan dan tiga rumah rusak sedang. Gempa tersebut juga merusak satu unit masjid dan satu unit Puskesmas pembantu.
Sulawesi Zona Gempa Paling Aktif di Indonesia
Gempa di Buol kali ini semakin menegaskan bahwa wilayah Sulawesi merupakan salah satu zona seismik paling dinamis di Indonesia. BMKG Stasiun Geofisika Manado mencatat sebanyak 3.377 kejadian gempa bumi tektonik mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya sepanjang tahun 2025 saja. Angka ini menunjukkan betapa aktifnya pergerakan lempeng di kawasan tersebut.
Dari total kejadian tersebut, gempa dangkal mendominasi dengan 2.060 kejadian, diikuti gempa menengah sebanyak 1.283 kejadian, dan gempa dalam sebanyak 34 kejadian. Rentang magnitudo yang tercatat sangat bervariasi, mulai dari yang terkecil M1,0 hingga gempa terbesar mencapai magnitudo M7. Pusat aktivitas gempa selama tahun 2025 terkonsentrasi di tiga area utama, yaitu Teluk Tomini, Laut Maluku, dan Laut Sulawesi.
Pada awal tahun 2026 pun, aktivitas seismik di kawasan ini tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. BMKG mencatat 4.879 gempa terjadi di seluruh Indonesia selama Januari 2026. Kemudian, pada 10 Januari 2026, gempa berkekuatan M6,4 mengguncang wilayah Melonguane di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Gempa tersebut awalnya terdeteksi dengan magnitudo 7,1 sebelum direvisi oleh BMKG setelah analisis lebih lanjut.
Kompleksitas Tektonik Kawasan Sulawesi Utara
Untuk memahami mengapa wilayah Sulawesi begitu rawan gempa, kita perlu mengetahui kondisi geologis di bawah permukaannya. Kawasan Sulawesi bagian utara berada di zona pertemuan beberapa lempeng tektonik yang sangat kompleks. Laut Maluku, misalnya, merupakan anomali tektonik dunia karena di sana terjadi fenomena langka yang dikenal sebagai subduksi ganda.
Pada zona subduksi ganda ini, Lempeng Laut Maluku yang berada di tengah menunjam ke dua arah sekaligus. Ke arah barat, lempeng ini menunjam di bawah Busur Sangihe yang meliputi Sulawesi Utara. Ke arah timur, lempeng tersebut menunjam di bawah Busur Halmahera di Maluku Utara. Tekanan kompresi ekstrem dari dua arah ini menyebabkan batuan mengalami pembengkokan dan patah, sehingga menghasilkan gempa-gempa yang cukup sering.
Selain subduksi ganda, wilayah Sulawesi Tengah juga dipengaruhi oleh Patahan Palu-Koro yang membentang sepanjang kurang lebih 330 kilometer dari Tanjung Mangkaliat di Kalimantan Utara hingga perbatasan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Patahan aktif ini bertipe mendatar mengiri dan kerap menjadi sumber gempa-gempa merusak, termasuk gempa dahsyat Palu tahun 2018 yang memicu tsunami dan likuefaksi.
Gempa Sehari Sebelumnya di Bolaang Mongondow
Menariknya, gempa Buol terjadi hanya sehari setelah gempa M5,0 mengguncang Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara pada Rabu 18 Februari 2026 pukul 02.24 WIB. Pusat gempa tersebut berada pada kedalaman 13 kilometer dengan episentrum di 96 kilometer tenggara Bolaanguki. Dua gempa signifikan dalam dua hari berturut-turut di kawasan Sulawesi bagian utara ini semakin menegaskan tingginya aktivitas seismik di wilayah tersebut.
Meskipun kedua gempa ini terjadi berdekatan dari sisi waktu, BMKG belum mengonfirmasi apakah keduanya memiliki hubungan tektonik secara langsung. Setiap gempa bisa memiliki sumber dan mekanisme yang berbeda, meskipun berada di kawasan seismik yang sama. Oleh sebab itu, masyarakat di seluruh kawasan Sulawesi bagian utara perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan.
Kondisi ini juga menjadi pengingat bagi pemerintah daerah untuk terus memperkuat infrastruktur mitigasi bencana. Sistem peringatan dini, jalur evakuasi yang jelas, serta edukasi kesiapsiagaan gempa bagi masyarakat harus menjadi prioritas utama, terutama di daerah-daerah yang secara historis sering mengalami guncangan seismik.
Langkah yang Harus Dilakukan Saat Gempa Terjadi
BMKG secara konsisten memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai langkah-langkah keselamatan saat gempa bumi terjadi. Pertama, warga harus segera melindungi badan dan kepala dari kemungkinan reruntuhan bangunan dengan cara bersembunyi di bawah meja atau perabotan kokoh lainnya. Metode ini dikenal dengan istilah Drop, Cover, and Hold On.
Kedua, jika berada di dalam bangunan, jangan langsung berlari keluar karena justru berisiko tertimpa reruntuhan. Tunggu hingga guncangan berhenti, lalu keluar dengan hati-hati menuju area terbuka yang aman. Ketiga, jika berada di luar ruangan, segera menjauhi gedung, pohon besar, tiang listrik, dan benda-benda tinggi lainnya yang berpotensi roboh.
Selain itu, BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk selalu mempersiapkan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting, obat-obatan, makanan ringan, air minum, senter, dan pakaian ganti. Kesiapsiagaan seperti ini sangat penting, terutama bagi warga yang tinggal di kawasan rawan gempa seperti Sulawesi dan sekitarnya. Dengan persiapan yang matang, risiko korban jiwa dan kerugian material bisa diminimalkan secara signifikan.
Pentingnya Memantau Informasi dari Sumber Resmi
Di era media sosial, informasi tentang gempa bumi menyebar sangat cepat. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. BMKG berulang kali mengimbau masyarakat agar hanya mengandalkan sumber informasi resmi untuk mendapatkan data yang valid tentang gempa bumi.
Masyarakat bisa mengakses informasi gempa terkini melalui beberapa kanal resmi BMKG. Pertama, situs web resmi BMKG yang menyediakan halaman gempa bumi real-time dengan data lengkap meliputi waktu kejadian, magnitudo, kedalaman, dan lokasi. Kedua, akun media sosial resmi BMKG di platform X, Facebook, dan Instagram yang aktif membagikan informasi gempa secara cepat.
Ketiga, aplikasi resmi Info BMKG yang tersedia untuk perangkat Android maupun iOS. Aplikasi ini menyediakan informasi gempa bumi real-time, prakiraan cuaca, kualitas udara, serta potensi tsunami. Keempat, situs InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) yang menjadi pusat informasi gempa signifikan dan potensi tsunami.
Dengan memanfaatkan sumber-sumber resmi tersebut, masyarakat bisa mendapatkan informasi yang cepat, tepat, dan akurat. Hal ini jauh lebih baik daripada mengandalkan pesan berantai di grup WhatsApp atau unggahan media sosial yang belum terverifikasi kebenarannya. Kewaspadaan yang didasari informasi valid akan membantu masyarakat mengambil keputusan yang tepat saat situasi darurat gempa terjadi.
