Gempa M3,5 Guncang Donggala Sulteng , Berpusat di Darat

Gempa M3,5 guncang Donggala Sulteng hari ini menambah catatan aktivitas seismik di wilayah Sulawesi Tengah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pada Selasa, 6 Januari 2026 pukul 07.11.32 WIB atau 08.11 WITA.

BMKG merilis data resmi bahwa pusat gempa berada di darat, tepatnya 21 kilometer selatan Donggala. Gempa ini memiliki kedalaman 10 kilometer yang tergolong gempa dangkal.

Meski berkekuatan kecil, masyarakat tetap perlu mewaspadai aktivitas seismik di kawasan ini. Sulawesi Tengah memang terkenal sebagai wilayah dengan tingkat kegempaan tinggi.

Data Lengkap Gempa Donggala Hari Ini

BMKG merilis parameter gempa bumi yang mengguncang Donggala dengan detail sebagai berikut. Informasi ini sangat penting untuk di pahami masyarakat.

Waktu kejadian gempa tercatat pada pukul 07.11.32 WIB atau setara dengan pukul 08.11.32 WITA. Gempa terjadi di pagi hari saat aktivitas masyarakat mulai berjalan.

Kekuatan gempa mencapai magnitudo 3,5 pada skala Richter. Skala ini tergolong gempa kecil yang umumnya tidak menimbulkan kerusakan signifikan.

Kedalaman pusat gempa berada di 10 kilometer dari permukaan bumi. Gempa dengan kedalaman kurang dari 70 kilometer masuk kategori gempa dangkal.

Episenter atau pusat gempa berlokasi di darat, bukan di laut. Posisi tepatnya berada 21 kilometer selatan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Gempa Tidak Berpotensi Tsunami

BMKG menegaskan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Masyarakat tidak perlu panik namun tetap harus waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.

Beberapa faktor membuat gempa ini tidak memicu tsunami. Pertama, kekuatan gempa yang tergolong kecil yaitu hanya 3,5 magnitudo.

Kedua, pusat gempa berada di darat, bukan di dasar laut. Tsunami umumnya terjadi ketika gempa besar berpusat di laut dan menyebabkan pergerakan massa air.

Ketiga, mekanisme gempa yang tidak menghasilkan perpindahan vertikal besar pada dasar laut. Faktor ini sangat menentukan potensi tsunami.

Meskipun demikian, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk tidak terpancing isu yang tidak dapat di pertanggungjawabkan kebenarannya.

Aktivitas Sesar Palu Koro

Gempa yang terjadi di wilayah Donggala dan sekitarnya umumnya berkaitan dengan aktivitas Sesar Palu Koro. Patahan aktif ini membelah Sulawesi Tengah dari utara ke selatan.

Sesar Palu Koro merupakan salah satu dari 78 patahan aktif di wilayah timur Indonesia. Patahan ini membentang sepanjang 500 kilometer dari Teluk Palu hingga Teluk Bone.

Secara tektonik, sesar ini terbentuk akibat tekanan dari benturan mikrokontinen Banggai-Sula yang bergerak ke arah barat. Proses ini sudah berlangsung jutaan tahun lalu.

Di bagian darat, patahan ini membelah Kota Palu sepanjang 250 kilometer. Jalurnya mengikuti alur Sungai Palu, melewati Kecamatan Kulawi hingga perbatasan Sulawesi Tenggara.

Sesar Palu Koro tergolong sebagai sesar mendatar mengiri atau sinistral strike-slip fault. Karakteristik ini berbeda dengan sesar naik yang lebih berpotensi menimbulkan tsunami.

Sejarah Gempa Besar di Donggala

Wilayah Donggala dan Palu memiliki catatan panjang kejadian gempa merusak. Sejarah mencatat beberapa peristiwa besar yang pernah mengguncang kawasan ini.

Pada 1 Desember 1927, gempa berkekuatan 7,9 magnitudo mengguncang Teluk Palu. Bencana ini menewaskan 14 orang dan melukai 50 orang serta memicu tsunami setinggi 15 meter.

Tiga tahun kemudian, 30 Januari 1930, tsunami kembali melanda Pantai Barat Donggala. Gelombang mencapai ketinggian lebih dari 2 meter dalam durasi 2 menit.

Pada 14 Agustus 1938, gempa dan tsunami menghantam Teluk Tambu Balaesang Donggala. Tsunami saat itu mencapai ketinggian 8-10 meter.

Rangkaian gempa terus terjadi pada 1998, 2007, 2008, dan 2012. Setiap kejadian memakan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.

Tragedi 28 September 2018

Gempa paling dahsyat dalam sejarah modern terjadi pada 28 September 2018. Bencana ini masih sangat membekas dalam ingatan masyarakat Sulawesi Tengah.

Gempa berkekuatan 7,5 magnitudo mengguncang Donggala dan Palu pada sore hari. Pusat gempa berada 26 kilometer utara Donggala dengan kedalaman 10 kilometer.

Bencana ini memicu tsunami setinggi 5-7 meter yang menerjang Teluk Palu. Selain itu, fenomena likuefaksi atau pencairan tanah terjadi di empat lokasi permukiman.

Balaroa, Petobo, Jono’oge, dan Sibalaya mengalami kerusakan parah akibat likuefaksi. Tanah berubah menjadi lumpur dan menelan ratusan rumah serta penghuninya.

Total korban jiwa mencapai 4.340 orang dengan kerusakan 66.967 bangunan. Perkiraan kerugian mencapai Rp24,1 triliun, menjadikannya bencana paling mematikan tahun 2018 secara global.

Kondisi Tektonik Sulawesi Tengah

Sulawesi Tengah memiliki kondisi tektonik yang sangat kompleks. Wilayah ini terletak pada pertemuan tiga lempeng besar yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Indo-Australia.

Proses pembentukan tektonik menyebabkan kondisi geologi Pulau Sulawesi termasuk paling rumit di dunia. Selain Sesar Palu Koro, terdapat banyak patahan aktif lainnya.

Beberapa sesar aktif di wilayah ini antara lain Sesar Matano, Sesar Gorontalo, dan Sesar Poso. Ada juga sesar naik Batui di lengan timur Sulawesi Tengah.

Struktur geologi yang kompleks ini membuat Sulawesi Tengah menjadi zona rawan gempa permanen. Masyarakat harus selalu siap menghadapi kemungkinan bencana.

Batuan di kawasan Donggala tersusun dari batuan berumur Pra Tersier, Tersier, dan Kuarter. Sebagian besar batuan ini sudah mengalami pelapukan yang memperkuat efek guncangan.

Tips Mitigasi Saat Gempa Terjadi

BMKG memberikan panduan penting untuk masyarakat saat gempa terjadi. Langkah pertama adalah berusaha tidak panik dan tetap tenang.

Tarik napas dalam-dalam dan perhatikan keadaan sekitar. Pilihlah tempat yang aman untuk berlindung dari kemungkinan reruntuhan.

Jika berada di dalam bangunan, berlindunglah di bawah meja yang kokoh. Hindari berdiri dekat jendela, lemari, atau benda-benda yang bisa jatuh.

Jika berada di luar ruangan, menjauhlah dari bangunan, tiang listrik, dan pohon. Carilah area terbuka yang aman dari potensi reruntuhan.

Setelah gempa berhenti, periksa kondisi bangunan sebelum masuk kembali. Waspadai kemungkinan gempa susulan yang bisa terjadi kapan saja.

Peran BMKG dalam Pemantauan Gempa

BMKG bertugas memantau aktivitas seismik di seluruh Indonesia selama 24 jam. Lembaga ini mengoperasikan jaringan seismometer yang tersebar di berbagai wilayah.

Untuk wilayah Sulawesi Tengah, BMKG memiliki Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri. Unit ini bertugas memberikan informasi iklim dan kualitas udara serta gempa.

BMKG mengingatkan bahwa dalam beberapa menit pertama setelah gempa, parameter bisa berubah. Data akan di perbarui setelah analisis lebih lanjut oleh ahli seismologi.

Masyarakat bisa mengakses informasi gempa terkini melalui website resmi BMKG atau akun media sosial @infoBMKG. Informasi resmi ini lebih dapat di percaya daripada isu yang beredar.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Hoaks tentang gempa bisa menimbulkan kepanikan yang tidak perlu.

Kesiapsiagaan Masyarakat Sulteng

Masyarakat Sulawesi Tengah sudah terbiasa hidup berdampingan dengan ancaman gempa. Pengalaman tragis 2018 menjadi pembelajaran berharga untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

Pemerintah daerah secara rutin mengadakan simulasi evakuasi tsunami. Kegiatan ini melibatkan masyarakat, sekolah, dan berbagai instansi terkait.

Jalur evakuasi dan titik kumpul sudah di tetapkan di berbagai wilayah rawan. Rambu-rambu penunjuk arah di pasang untuk memudahkan evakuasi saat bencana terjadi.

Sistem peringatan dini tsunami juga sudah di pasang di beberapa titik. Sirine akan berbunyi otomatis ketika BMKG mengeluarkan peringatan tsunami.

Masyarakat di imbau untuk selalu menyiapkan tas siaga bencana. Isi tas meliputi dokumen penting, obat-obatan, makanan, air minum, dan perlengkapan darurat lainnya.

Gempa Susulan yang Perlu Diwaspadai

Setelah gempa utama terjadi, biasanya akan muncul gempa susulan dengan kekuatan lebih kecil. Fenomena ini normal dan bisa berlangsung beberapa hari hingga minggu.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Jangan lengah meskipun gempa utama sudah berlalu.

Hindari menempati bangunan yang sudah retak atau rusak akibat gempa. Kerusakan struktural bisa menyebabkan bangunan runtuh saat gempa susulan terjadi.

Periksa instalasi listrik dan gas sebelum menggunakannya kembali. Kebocoran bisa menyebabkan bahaya lebih lanjut seperti kebakaran atau ledakan.

Selalu ikuti arahan dari BPBD dan petugas keamanan setempat. Mereka memiliki informasi terkini tentang kondisi dan langkah yang harus di ambil.

Mengapa Gempa Sering Terjadi di Sulteng

Frekuensi gempa yang tinggi di Sulawesi Tengah bukan tanpa sebab. Wilayah ini berada tepat di atas jalur patahan aktif yang terus bergerak.

Sesar Palu Koro memiliki laju pergerakan sekitar 3-4 sentimeter per tahun. Pergerakan ini terus mengakumulasi energi yang sewaktu-waktu bisa terlepas sebagai gempa.

Selain itu, dorongan dari Lempeng Laut Filipina ke arah barat turut mempengaruhi. Tekanan ini di transmisikan melalui sesar besar Sorong-Sula.

Pemekaran Laut Banda ke arah barat laut dan tenggara juga memberikan kontribusi. Proses ini mendorong Buton dan Banggai bergerak ke arah barat.

Dengan kompleksitas tektonik seperti ini, Sulawesi Tengah akan selamanya menjadi kawasan aktif gempa. Kesiapsiagaan menjadi kunci utama untuk meminimalkan korban.

Penutup

Gempa M3,5 yang mengguncang Donggala pada Selasa, 6 Januari 2026 menjadi pengingat akan aktivitas seismik di Sulawesi Tengah. Meski berkekuatan kecil, masyarakat tetap harus waspada.

BMKG terus memantau aktivitas gempa dan memberikan informasi terkini kepada publik. Masyarakat di imbau untuk selalu mengikuti arahan resmi dan tidak menyebarkan hoaks.

Kesiapsiagaan menghadapi bencana harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Pengetahuan tentang mitigasi dan evakuasi bisa menyelamatkan nyawa saat bencana terjadi.

Sulawesi Tengah memang wilayah rawan gempa, namun bukan berarti masyarakat harus hidup dalam ketakutan. Yang di butuhkan adalah kewaspadaan dan persiapan yang matang untuk menghadapi kemungkinan terburuk.

Skala Intensitas Gempa MMI

Untuk memahami dampak gempa, BMKG menggunakan Skala Intensitas Mercalli yang Di modifikasi (MMI). Skala ini mengukur efek gempa yang di rasakan di permukaan, bukan kekuatan sesungguhnya.

Skala I-II MMI menunjukkan getaran yang hanya di rasakan beberapa orang. Benda-benda ringan yang di gantung bergoyang pelan.

Skala III-IV MMI berarti getaran di rasakan nyata di dalam rumah. Terasa seperti ada truk besar yang berlalu di dekat rumah.

Skala V-VI MMI menandakan getaran di rasakan semua orang. Kebanyakan orang terkejut dan berlari keluar rumah.

Skala VII-VIII MMI menunjukkan kerusakan bangunan mulai terjadi. Dinding retak dan bangunan yang tidak kokoh bisa runtuh.

Gempa M3,5 di Donggala hari ini kemungkinan hanya mencapai skala II-III MMI. Getaran terasa namun tidak menimbulkan kerusakan berarti.

Perbedaan Gempa Dangkal dan Dalam

BMKG mengklasifikasikan gempa berdasarkan kedalaman hiposenternya. Klasifikasi ini penting untuk memahami karakteristik dan potensi dampak gempa.

Gempa dangkal memiliki kedalaman 0-70 kilometer dari permukaan. Jenis gempa ini biasanya terasa lebih kuat di permukaan meski magnitudonya kecil.

Gempa menengah terjadi pada kedalaman 70-300 kilometer. Dampaknya di permukaan lebih tersebar dan tidak terlalu terasa.

Gempa dalam memiliki kedalaman lebih dari 300 kilometer. Meski magnitudonya besar, getaran di permukaan relatif lemah karena jarak yang jauh.

Gempa Donggala hari ini tergolong gempa dangkal dengan kedalaman 10 kilometer. Meski magnitudonya kecil, potensi untuk di rasakan masyarakat cukup tinggi.

Perbandingan dengan Gempa Lain Hari Ini

Selain gempa di Donggala, beberapa wilayah lain di Indonesia juga mengalami gempa pada periode yang sama. BMKG mencatat aktivitas seismik di berbagai daerah.

Di Sulawesi Utara, gempa M3,7 terjadi di wilayah Minahasa Tenggara pada pukul 08.45 WITA. Pusat gempa berada di laut 94 kilometer tenggara Melonguane.

Gempa Minahasa Tenggara memiliki kedalaman 17 kilometer. Sama seperti gempa Donggala, gempa ini juga tidak berpotensi tsunami.

Indonesia memang merupakan negara dengan aktivitas gempa sangat tinggi. Rata-rata terjadi puluhan gempa setiap harinya di berbagai wilayah.

Sebagian besar gempa berkekuatan kecil dan tidak di rasakan masyarakat. Namun beberapa di antaranya bisa mencapai kekuatan destruktif.

Langkah Pemerintah Pasca Gempa 2018

Setelah tragedi 2018, pemerintah mengambil berbagai langkah untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Pembangunan infrastruktur kebencanaan menjadi prioritas utama.

Sistem peringatan dini tsunami di perkuat dengan penambahan alat deteksi. Buoy dan tide gauge di pasang di beberapa titik strategis di sepanjang pantai.

Pemerintah juga melakukan relokasi permukiman dari zona merah bencana. Warga yang tinggal di daerah rawan likuefaksi di pindahkan ke lokasi yang lebih aman.

Pendidikan kebencanaan di masukkan dalam kurikulum sekolah. Siswa di ajarkan tentang jenis bencana dan cara menyelamatkan diri.

Pembangunan hunian tahan gempa juga di galakkan. Standar konstruksi bangunan di perketat untuk meminimalkan korban saat bencana terjadi.

Pentingnya Asuransi Bencana

Masyarakat di wilayah rawan gempa di sarankan memiliki asuransi bencana. Perlindungan finansial ini bisa sangat membantu saat musibah terjadi.

Beberapa perusahaan asuransi menawarkan produk khusus untuk bencana alam. Cakupan meliputi kerusakan properti, biaya evakuasi, dan kehilangan pendapatan.

Pemerintah juga memiliki program asuransi pertanian untuk petani. Program ini melindungi hasil panen dari kerusakan akibat bencana alam.

Kesadaran tentang asuransi bencana masih rendah di masyarakat. Edukasi perlu di lakukan agar masyarakat memahami pentingnya perlindungan finansial.

Dengan asuransi, pemulihan pasca bencana bisa berjalan lebih cepat. Masyarakat tidak perlu menanggung sendiri semua kerugian yang di alami.

Kesimpulan dan Harapan

Gempa M3,5 yang mengguncang Donggala pada Selasa pagi ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan. Wilayah Sulawesi Tengah akan terus mengalami aktivitas seismik karena posisi tektoniknya.

Masyarakat harus menjadikan kesiapsiagaan sebagai budaya, bukan reaksi sesaat. Persiapan yang matang bisa menyelamatkan nyawa dan meminimalkan kerugian.

Peran pemerintah, BMKG, dan masyarakat harus bersinergi dalam menghadapi ancaman bencana. Komunikasi yang baik dan edukasi berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan mitigasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *