Peringatan hujan lebat di Sulawesi Selatan kembali dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar. Sejumlah wilayah di provinsi ini berpotensi mengalami cuaca ekstrem dengan intensitas hujan sedang hingga sangat lebat. Selain itu, BMKG juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
Daftar Wilayah Berpotensi Hujan Lebat
BMKG Wilayah IV Makassar telah merilis prakiraan cuaca untuk hari ini, Selasa 20 Januari 2026. Berdasarkan data tersebut, sebagian besar wilayah Sulsel berpotensi mengalami hujan dengan intensitas bervariasi sejak pagi hingga dini hari.
Pada pagi hari, kondisi cuaca umumnya berawan. Namun, potensi hujan ringan hingga sedang berpeluang terjadi di beberapa wilayah. Daerah yang terdampak meliputi Pangkep, Maros, Makassar, Gowa, Takalar, dan Jeneponto.
Selain itu, wilayah Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Bone, Luwu Timur, Luwu Utara, serta Kepulauan Selayar juga berpotensi diguyur hujan. Oleh karena itu, masyarakat perlu mempersiapkan diri sebelum beraktivitas di luar ruangan.
Intensitas Hujan Meningkat di Siang Hari
Memasuki siang hingga sore hari, BMKG memprakirakan hujan ringan akan terjadi hampir merata di seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Sementara itu, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi mengguyur beberapa daerah tertentu.
Wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan antara lain Enrekang, Luwu, Luwu Utara, dan Pinrang. Di samping itu, kawasan metropolitan seperti Gowa, Maros, Pangkep, Makassar, Jeneponto, dan Takalar juga masuk dalam kategori waspada.
Kondisi ini sejalan dengan prakiraan BMKG untuk periode 20-22 Januari 2026. Selama tiga hari ke depan, potensi hujan sedang hingga sangat lebat masih akan mendominasi cuaca di Sulawesi Selatan.
Enam Kabupaten Masuk Status Awas
Sebelumnya, BMKG Wilayah IV Makassar telah merilis peringatan dini cuaca ekstrem selama periode 11-20 Januari 2026. Sebanyak enam kabupaten dan kota di Sulsel masuk kategori “awas” curah hujan tinggi.
Wilayah yang masuk status awas meliputi Makassar, Barru, Bone, Gowa, Maros, dan Pangkep. Status awas menunjukkan probabilitas curah hujan di atas 300 milimeter dalam kurun waktu tertentu.
Di Makassar, potensi curah hujan tinggi terpantau di Biringkanaya, Manggala, Panakkukang, dan Tamalanrea. Sementara itu, wilayah Maros yang masuk kategori awas tersebar di beberapa kecamatan mulai dari Bantimurung hingga Turikale.
Selain itu, wilayah Pangkep yang masuk status awas mencakup Balocci hingga Tondong Tallasa. Di Gowa, area yang terdampak meliputi Labakkang, Liukangtupabbiring Utara, Mandalle, Marang, Minasatene, dan Segeri.
Potensi Banjir dan Tanah Longsor
BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi. Cuaca ekstrem yang terjadi berpotensi memicu banjir, tanah longsor, genangan air, serta gangguan aktivitas transportasi.
Wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana meliputi Gowa, Makassar, Maros, Pangkep, Takalar, dan Jeneponto. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak meremehkan peringatan dini yang telah dikeluarkan.
BMKG juga mencatat beberapa langkah mitigasi yang perlu dilakukan. Pertama, pastikan saluran drainase tetap bersih dan lancar. Kedua, hindari bepergian ke daerah rawan banjir atau longsor selama cuaca ekstrem.
Ketiga, simpan barang-barang penting di tempat yang aman dan mudah dijangkau. Terakhir, tetap pantau informasi cuaca terbaru dari BMKG secara berkala untuk mengantisipasi perubahan kondisi atmosfer.
Penyebab Cuaca Ekstrem di Sulsel
Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Bagus Primohadi, menjelaskan kondisi cuaca di Sulawesi Selatan sepanjang Januari 2026 masih didominasi hujan. Intensitas hujan tersebut berada pada kategori sedang hingga lebat berdasarkan akumulasi curah hujan dasarian.
Hujan dengan intensitas tinggi terakumulasi di wilayah bagian barat Sulsel. Daerah yang terdampak meliputi Pinrang, Parepare, Barru, Pangkep, Maros, Makassar, Takalar, Gowa, dan Jeneponto. Di samping itu, sebagian wilayah Bantaeng juga mengalami kondisi serupa.
Akumulasi curah hujan di wilayah barat Sulsel berpotensi mencapai 200 hingga 300 milimeter dalam kurun waktu 10 hari. Namun, angka tersebut merupakan akumulasi dasarian, bukan curah hujan harian.
Sementara itu, wilayah timur Sulawesi Selatan seperti Wajo, Bone, Soppeng, dan Sinjai berada pada kategori normal hingga di bawah normal. Dengan demikian, kondisi cuaca di bagian timur relatif lebih stabil dibandingkan wilayah barat.
Dinamika Atmosfer Pemicu Hujan Lebat
BMKG mencatat beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi cuaca di Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan. Pada skala global, El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terpantau menguat pada fase negatif yang mengindikasikan La Niña lemah.
Kondisi La Niña berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan. Selain itu, suhu muka laut yang relatif hangat di sebagian perairan Indonesia turut memperkaya pasokan uap air.
Dari aspek regional, penguatan monsun dingin Asia memberikan pengaruh signifikan. Seruakan udara dingin atau cold surge dari Benua Asia meningkat dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini memperkuat konvergensi di wilayah selatan Indonesia.
Bibit Siklon Tropis 96S yang berada di selatan Nusa Tenggara Barat juga mempengaruhi pola cuaca. Sistem ini menyebabkan aliran angin di Indonesia bagian selatan menjadi lebih dominan ke arah timur. Akibatnya, konvergensi dan perlambatan massa udara semakin menguat.
Puncak Musim Hujan Januari 2026
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, sebelumnya menyampaikan bahwa puncak musim hujan terjadi pada Januari 2026. Wilayah yang terdampak meliputi Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Papua bagian selatan, dan Sulawesi Selatan.
Di beberapa titik, intensitas hujan bisa masuk kategori ekstrem atau sangat tinggi. Curah hujan berpotensi mencapai di atas 500 milimeter per bulan di wilayah tertentu. Sulawesi Selatan termasuk dalam daftar wilayah dengan curah hujan kategori sangat tinggi.
Data BMKG juga menunjukkan bahwa curah hujan tinggi masih akan bertahan di Sulawesi Selatan hingga Februari 2026. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu memperpanjang masa kesiapsiagaan banjir dan longsor.
Hujan dengan intensitas sangat lebat sebelumnya tercatat di Makassar mencapai 126,7 mm/hari. Angka ini menunjukkan potensi cuaca ekstrem yang signifikan di ibu kota Sulawesi Selatan.
Kondisi Suhu dan Kelembapan Udara
BMKG Makassar juga merilis prakiraan suhu dan kelembapan udara di Sulawesi Selatan. Suhu udara di wilayah ini berada pada kisaran 19 hingga 33 derajat Celsius.
Sementara itu, kelembapan udara berada di rentang 75 hingga 100 persen. Kondisi kelembapan yang tinggi mendukung pembentukan awan hujan di atmosfer. Oleh karena itu, potensi hujan lebat semakin meningkat.
Angin bertiup dari arah barat daya hingga barat laut dengan kecepatan sekitar 10 hingga 55 kilometer per jam. Kecepatan angin yang cukup tinggi berpotensi menimbulkan angin kencang di beberapa wilayah.
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini angin kencang untuk wilayah Sulawesi Selatan bagian barat dan selatan. Kawasan pesisir perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca ekstrem.
Imbauan BMKG untuk Masyarakat
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memantau informasi cuaca terkini. Perubahan kondisi atmosfer dapat terjadi secara cepat dan tidak terduga. Dengan demikian, kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam menghadapi cuaca ekstrem.
Masyarakat yang berencana melakukan aktivitas di luar ruangan sebaiknya menyiapkan perlengkapan pelindung. Payung atau jas hujan menjadi kebutuhan penting selama musim hujan berlangsung.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk memahami daerah potensi bahaya atau rawan bencana di sekitar tempat tinggal. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan merupakan langkah utama dalam menghadapi potensi curah hujan tinggi.
BMKG juga menegaskan bahwa informasi prakiraan cuaca perlu diperbarui setiap hari. Kondisi cuaca sangat dinamis dan bisa berubah setiap waktu. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengakses informasi resmi dari BMKG secara berkala.
Tips Menghadapi Cuaca Ekstrem
Menghadapi potensi hujan lebat dan bencana hidrometeorologi, masyarakat perlu melakukan beberapa persiapan. Pertama, periksa kondisi atap rumah dan pastikan tidak ada kebocoran yang berpotensi menimbulkan masalah.
Kedua, bersihkan saluran air dan drainase di sekitar rumah. Saluran yang tersumbat dapat menyebabkan genangan air saat hujan lebat terjadi. Dengan demikian, risiko banjir dapat diminimalisir.
Ketiga, siapkan peralatan darurat seperti senter, obat-obatan, dan makanan cadangan. Persiapan ini penting untuk mengantisipasi kondisi darurat yang mungkin terjadi akibat cuaca ekstrem.
Keempat, simpan nomor telepon penting seperti BPBD, pemadam kebakaran, dan rumah sakit terdekat. Informasi ini sangat berguna saat terjadi kondisi darurat yang memerlukan penanganan cepat.
Terakhir, hindari berada di dekat sungai, lereng curam, atau daerah rawan longsor saat hujan lebat terjadi. Keselamatan diri dan keluarga harus menjadi prioritas utama dalam menghadapi cuaca ekstrem.
